AKU BANGGA INDONESIA

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Indonesia adalah sebuah Negara besar, meskipun belum banyak yang mengakui hal tersebut. Bahkan masyarakat Indonesia sendiri tak banyak yang bangga terhadap Negara Indonesia yang tercinta ini. Makalah  ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia.

Makalah  yang AKU BANGGA INDONESIA ini dibuat atas tujuan untuk menambah rasa cinta kita terhadap Bangsa dan Negara  kita yang tercinta ini.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Berbagai persoalan di dalam tubuh Indonesia yang terjadi sekarang ini adalah cerminan dari perilaku kita selama ini. Apabila ada orang yang mengatakan betapa hancurnya Negara ini tentu ada pengecualian yang dapat membuat kita bangga terhadap Indonesia. Kita tidak akan kehabisan alasan untuk mencintai  Negara tercinta kita Indonesia Raya.

1.3 METODE PENELITIAN

Untuk menyusun makalah ini penulis mengambil data dari berbagai sumber baik media cetak maupun media elektronik.

 

 

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1  GAMBARAN PEREKONOMIAN DUNIA

Keadaan dunia saat ini memang sedang tidak menentu, terlebih krisis yang terrjadi di Timur-Tengah sangat mempengaruhi keadaan di sebagian besar Negara di dunia.

Salah satu contoh Libya yang tengah mengalami krisis merupakan pemasok minyak terbesar ke Eropa. Tentu saja dengan krisis di Libya Negara-negara di eropa merasakan dampaknya.

Berita pada media  cetak maupun media elektronik dipenuhi seputar masalah perekonomian dunia yang makin kompleks seperti:

  • Harga minyak yang mahal mencapai US$ 91,18 perbarel.
  • Bank Dunia memperkirakan PDB menyusut dari 3,9% pada 2010 menjadi 3,3% pada 2011 dan 3,6 pada 2012.
  • Pertumbuhan Ekonomi India dihantui inflasi. Pada desember 2010 angka inflasi India berada pada level 8,43% lebih tinggi 0,95% dari bulan sebelumnya
  • IMF : Perekonomian Dunia Lesu (liputan6.com)
  • Data pengangguran di AS menunjukan sekitar 54ribu lapangan pekerjaan hilang. Tingkat pengangguran bertambah menjaddi 9,6%.

2.2  PEREKONOMIAN INDONESIA

Terlepas dari berita-berita negative yang ada di Indonesia, kita tentu tidak bisa menghilangkan rasa cinta kita terhadap Indonesia. Berita tentang peningkatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga tak kalah banyak beberapa diantaranya adalah :

BERITA1

Eduardus Christmas – Founder, CEO, Chief Innovation Officer PT Evolitera, Jakarta

Beberapa waktu yang lalu, Indonesia mulai menjadi sorotan mata dunia dalam hal web technology. Berita yang ditulis oleh TechCrunch, sebuah media massa bergengsi di Silicon Valley menunjukkan hal tersebut. Bukan bangga karena Evolitera masuk di dalamnya, melainkan karena Indonesia yang dahulu hanya dipandang sebagai “market” dari produk semacam Facebook atau Twitter, kini mulai dilirik sebagai “maker” alias produser! Hal ini diperkuat dengan mulai masuknya investor asing yang berminat mendanai beberapa start up lokal di bidang web, pertanda bahwa kualitas entrepreneur lokal mulai dilirik.

Kreativitas dan kemampuan berpikir anak Indonesia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi jelas tidak kalah mumpuni. Lihat saja murid-murid SMK yang sudah mampu membuat mobil, para juara olimpiade matematika, fisika, juara robotik internasional, dan banyak lagi. Ditambah, sekarang semakin banyak event kompetisi inovasi di bidang teknologi yang digelar berbagai institusi, baik pemerintah, institusi pendidikan, maupun perusahaan swasta.

Mimpikah Indonesia menjadi salah satu kiblat teknologi dunia? Menurut Dwi Nuryanto (2010) dengan perkembangan dunia saat ini, persaingan ideologis telah berganti menjadi persaingan inovasi antar bangsa. Yang dibutuhkan saat ini bukan lagi perdebatan ideologis dan falsafah negara, apalagi Indonesia sudah memiliki Pancasila sebagai ‘ideologi yang ideal’. Yang kita butuhkan saat ini adalah inisiatif-inisiatif dan inovasi untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada di muka bumi, baik masalah nasional maupun internasional.

Di Indonesia, sebuah negara demokrasi dengan perekonomian yang terbuka, di mana hak-hak ekonomi pribadi diakui, maka salah satu jalan yang terbuka lebar adalah inovasi yang bersumber dari orang-perorangan (atau kelompok non-pemerintah). Inovasi dihasilkan oleh sektor swasta, dibantu oleh dunia akademik (kampus). Di sinilah peran para technopreneur (entrepreneur di bidang teknologi) akan teruji, dalam memajukan bangsa ini.

Berikut adalah faktor yang mendukung berkembangnya technopreneurship dan inovasi.

Bangsa yang kreatif. Indonesia adalah bangsa dengan ragam seni budaya tinggi. Industri kreatif di negara ini sangat hidup. Tidak hanya kreatifitas kesenian, masyarakat pun dapat menyelesaikan problematika mereka dengan kreatif. Tengok saja kampung-kampung yang tidak dialiri listrik PLN namun mampu menghasilkan listrik bagi kebutuhan mereka sendiri.

Kemampuan scientific. Sebelumnya sudah saya sebutkan beberapa prestasi anak-anak bangsa yang membanggakan di kancah kompetisi science level global.

Sumber daya yang tersedia. Wilayah Indonesia yang subur dan berlimpah kekayaan alam, membuat orang bilang: “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, dan kita juga tahu betapa melimpahnya kekayaan bahan baku energi di tanah kita. Akan tetapi seringkali pertanyaan menusuk, mengapa lebih banyak bangsa asing yang menguasai kekayaan kita.

Menurut saya, kekayaan energi tidak terbatas pada batubara, gas, minyak bumi saja. Apakah garis pantai yang panjang bukan anugerah? Di garis pantai itu dapat diletakkan turbin angin penghasil listrik. Suatu investasi yang mungkin mahal, tetapi Indonesia tidak akan kekurangan energi selamanya. Biarlah negara lain mengeruk kekayaan energi kita saat ini, tetapi di masa depan Indonesia akan menjadi salah satu pusat renewable energy dunia. Teknologinya? Saya yakin mahasiswa teknik sudah bisa membuatnya!

Beban usaha yang (relatif) murah. Bayangkan jika Anda memulai sebuah perusahaan di negara-negara seperti US atau Eropa. Berapakah beban gaji dan sewa kantor yang harus ditanggung? Belum lagi Anda harus bertahan hidup tanpa gaji (atau gaji minimal) dengan biaya hidup yang tinggi ketika baru membangun usaha.

Di Indonesia, kita bisa memulai usaha dengan jauh lebih murah. OK-lah menurut peringkat IFC, negara kita kurang business friendly. Akan tetapi, hasil obrolan saya dengan beberapa entrepreneur yang sudah sukses, mereka berkata: “Kalau you mau sukses jadi kaum profesional, you musti pergi ke Amerika atau Singapura. Tapi kalau you mau kaya, ya di Indonesia ini!” Saya sepakat dengan hal ini.

Huge domestic market. Seorang technopreneur Singapura pernah mengatakan kepada saya bahwa mereka mengalami kendala ketika harus memasarkan produk mereka. Sama seperti Israel, mereka harus membuat produk-produk yang benar-benar berteknologi tinggi. Istilahnya kerennya: ground-breaking technology. Teknologi yang akan digunakan untuk membuat teknologi. Teknologi yang sangat sulit. Berbeda dengan Indonesia, RRC, atau Amerika Serikat yang dapat dengan mudah menjual produk-produk consumer technology untuk pasarnya sendiri.

Mimpikah Indonesia menjadi salah satu kiblat teknologi dunia? I believe in that dream! Semua impian tersebut akan terjadi, dengan syarat:

  1. Penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Korupsi telah melemahkan mental dan moralitas bangsa. Akhirnya, banyak orang cerdas yang tersingkir, tergusur oleh orang-orang haus kekuasaan dan materi.
  2. Pendidikan dengan penekanan pada budaya riset. Pendidikan seharusnya diarahkan kepada kompetensi, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, dan mendorong kreatifitas yang tinggi. Universitas berpotensi menyumbangkan teknologi yang dapat digunakan oleh perusahaan-perusahaan. Bahkan, para peneliti kampus sangat berpotensi menjadi entrepreneur (scientist entrepreneurship).
  3. Pembiayaan perusahaan-perusahaan start-up berbasis teknologi. Sulit rasanya jika perusahaan muda di bidang teknologi dibiayai oleh perbankan karena tidak adanya jaminan fisik serta tingginya resiko usaha. Oleh karena itu, pembiayaan tipe modal ventura atau venture capital perlu dibangun dengan benar.

Saat ini sudah bukan masanya berbangga diri dengan natural resource yang kaya. Indonesia di masa mendatang akan bangga karena tingkat kompetensi human resource–nya yang tinggi. Kreatifitas dan kemampuan (kapabilitas) anak muda Indonesia, jika digabungkan dengan semangat technopreneurship, maka akan menjadi kekuatan-kekuatan dahsyat bangsa ini. Akan lahir General Electric-General Electric baru, Ford-Ford baru, Google-Google baru, Facebook-Twitter baru, yang didirikan oleh anak bangsa Indonesia, dengan teknologi yang setara dengan produksi negara maju di masa mendatang!

 

Dumai (ANTARA News) – Menteri Koordinator Perekonomian RI Hatta Rajasa dalam pidato kunjungan kerjanya di Kota Dumai, Riau, Minggu, mengatakan, tingkat perekonomian Indonesia berada di peringkat 16 besar dari seluruh negara di dunia.

Hatta menerangkan, sejauh ini berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI) pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada 2010 dan diperkirakan akan meningkat menjadi 6,5 persen pada 2011.

“Dengan demikian prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik dari perkiraan sebelumnya,” papar Hatta.

Menko Perekonomian memperkirakan pada 2030 pendapatan per kapita Indonesia sudah diatas 17.000 dolar AS pertahun.

Hal tersebut menurut Hatta menimbang kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami pertumbuhan cukup pesat dan terus meningkat sejak 1970.

“Pada akhir 2010 saja diperkirakan pendapatan per kapita Indonesia sudah mencapai 3.000 dolar AS pertahun. Jumlah ini sudah di luar target pemerintah selama ini,” ungkapnya.

Menurut Hatta, di samping tetap kuatnya permintaan domestik, perbaikan terutama bersumber dari sisi eksternal sejalan dengan pemulihan ekonomi global, seperti terlihat dari ekspor yang mencatat pertumbuhan positif sejak triwulan IV-2009 juga merupakan pendongkrak perekonomian Indonesia.

Pemulihan ekonomi global dikatakan Hatta terlihat dari berbagai indikator ekonomi baik di negara maju, seperti Amerika Serikat dan Jepang maupun di kawasan Asia seperti China dan India yang pada akhirnya memberikan dampak positif bagi negara-negara yang merupakan mitra dagang mereka termasuk Indonesia.

Kendati demikian Hatta memandang pembangunan ekonomi yang cukup berhasil tersebut tampaknya tidak atau belum berdampak positif terhadap tingkat angka kemiskinan di seluruh wilayah RI.

“Untuk itu sedapat mungkin hal ini harus ada jalan keluarnya dan menjadi ‘pekerjaan rumah’ tidak hanya bagi pemerintah pusat, namun juga bagi pemerintah daerah termasuk Riau,” jelasnya.

Beberapa tahun belakang, tuturnya, tingkat kemiskinan dan pengangguran juga cenderung meningkat.

Pada tahun 2005, terangnya, jumlah penduduk miskin Indonesia ada sekitar 118 juta jiwa, jumlah ini adalah sekitar 53,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia seluruhnya.

“Sudah saatnya, dengan kondisi ini kita harus ekstra mencari jalan keluar yang tepat sehingga angka kemiskinan atau pengangguran tidak lagi meningkat dari tahun ketahun,” katanya.
(KR-FZR/M027/A038)

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

 

BERITA2

Prospek Perekonomian Indonesia 2011

Menuju “Investment Grade”?

A.Prasetyantoko

(Dimuat di Majalah InfoBank edisi Oktober 2010)

 

Menapaki kuartal terakhir 2010, ada hawa optimis yang berhembus dalam ruang perekonomian kita. Harian The New York Times, edisi 5 Agustus 2010 menyebut: Indonesia adalah sebuah model ekonomi, setelah melewati krisis lebih dari sepuluh tahun. Sementara Financial Times (12/08/2010) mengatakan, perekonomian Indonesia merupakan macan yang tengah terbangun.

 

Negeri ini merupakan salah satu target investasi yang menjanjikan. Tidakkah kita optimis menghadapi tahun 2011?

 

 

Tentu saja kita layak optimis. Namun, tetap harus waspada, karena ada beberapa “tantangan struktural” yang juga serius. Kegagalan kita mengelola persoalan-persoalan mendasar, justru akan menjebak kita. Kita hanya akan menjadi bangsa yang labil, karena hanya menjadi target investasi portofolio jangka pendek.

Jika kita tengok kondisi sektor finansial kita, yang meliputi pasar modal, uang, utang dan perbankan, nampaknya tak ada yang mengkuatirkan. Secara umum, peringkat investasi Indonesia terus meningkat, seiring dengan semakin turunnya credit default swap (CDS) sebagai cermin dari risiko investasi. Bahkan, Japan Credit Rating Agency Ltd., (JCRA) telah menaikkan peringkat Indonesia ke level “investment grade”  atau BBB- pada bulan Juli lalu. Tidak menutup kemungkinan, lembaga pemeringkat lainnya juga akan menaikkan rating Indonesia di tahun 2011.

Sementara ini, Moody’s masih menempatkan Indonesia dalam 2 tingkat di bawah level investasi (Ba2) dalam evaluasinya Juni lalu. Demikian pula S&P yang pada bulan Maret mengevaluasi peringkat Indonesia dan menetapkan posisi BB+/stable. Dan, Fitch Rating juga menempatkan Indonesia pada satu tingkat di bawah investment grade, yaitu BB+. Selain bersikap optimis, nampaknya kita juga perlu bertanya: faktor-faktor apa sajakah yang akan menghambat kita masuk ke level investasi?

Masih melanjutkan cerita sukses, prospek perbankan kita juga tak kalah kinclong. Di tengah ambruknya sistem perbankan global, perbankan Indonesia justru membukukan tingkat keuntungan yang tinggi, selain menunjukkan tingkat kehati-hatian. Tingkat Net-Interest Margin (NIM) perbankan Indonesia yang mencapai angka sekitar 5,7 persen, merupakan angka paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara sekitar. Bandingkan dengan Singapura yang NIM nya hanya sekitar 2 persen, Malaysia 2,3 persen, Thailand 3,3 persen. Jadi, tak salah jika para bankir asing sangat berminat masuk ke Indonesia, di samping karena potensi pasarnya yang masih sangat luas.

Ternyata, tingkat profitabilitas yang tinggi juga ditopang oleh tingkat kesehatan bank yang tinggi pula. Jika Basel Accord III diterapkan, dipastikan sektor perbankan di Indonesia tidak akan mengalami masalah. Menurut data Bank Indonesia yang dikeluarkan pada bulan Agustus 2010, dari 113 bank yang ada di Indonesia hanya 8 bank yang tingkat kecukupan modalnya (capital adequacy ratio) di bawah 8 persen. Sehingga, untuk mengikuti aturan Basel tentang modal utama atau Tier 1 Capital sebesar 4,5 persen yang harus tercapai pada 2013) dan 6 persen pada 2019, tidak akan menjadi persoalan.

 

Persoalan Struktural

Secara umum, prospek perekonomian Indonesia tahun 2011 sangat menjanjikan. Dan dengan demikian, potensi untuk memperolah gelar investment grade bukanlah hal yang mustahil. Tetapi, tetap saja ada persoalan-persoalan yang harus segera diatasi. Dan jika tidak, lagi-lagi kita berpotensi akan kehilangan kesempatan untuk kesekian kalinya, di berbagai bidang.

Pada prinsipnya, ada dua bidang besar yang masih menjadi kendala perekonomian kita untuk masuk dalam kritria perekonomian yang kuat. Tantangan pertama terkait dengan masih relatif kecilnya proporsi sektor keuangan kita terhadap skala perekonomian kita yang sangat besar. Dengan demikian, isu financial deepening masih sangat relevan untuk direspon. Kalau perbankan kita stabil dan menguntungkan, so what? Perekonomian maju salah satunya ditandai dengan penetrasi sektor keuangan yang cukup dalam terhadap dinamika perekonomian.

Dalam laporan Bank Dunia, Financial Access 2010, terlihat bahwa jumlah penabung per 1.000 orang di Indonesia masih sangat kecil, yaitu di bawah 1.000. Sementara, Thailand sudah mencapai sekitar 1.500. Bahkan Malaysia sudah lebih dari 3.000. Kecenderungan yang sama juga terjadi dalam hal jumlah pinjaman per 1.000 penduduk. Kita sejajar dengan Kamboja dan Mongolia, dan tertinggal jauh dari Malaysia. Bahkan kita jauh di bawah angka rata-rata untuk negara sedang berkembang.

Data lain yang juga menunjukkan “dangkalnya” sektor finansial di Indonesia adalah rasio jumlah uang beredar (broad money/M2) terhadap PDB yang juga masih kecil, dan bahkan ada  kecenderungan semakin mengecil hingga tahun 2007 lalu. Tentu saja, hal ini perlu mendapatkan perhatian serius dari otoritas moneter dan pemerintah. Terkait dengan rencana pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertanyaan yang layak diajukan, siapa nanti yang akan bertanggungjawab mendorong financial deepening?

Persoalan struktural kedua terkait dengan tingkat daya saing sektor riil kita yang masih relatif buruk. Meski World Economic Forum (WEF) dalam “World Competitiveness Report” telah menaikkan indeks daya saing kita dari 54 menuju 44 untuk periode 2010-2011 ini, tetapi tidak serta-merta terjadi perubahan mendasar. Dari laporan tersebut, terlihat bahwa membaiknya tingkat daya saing kita lebih didorong oleh perbaikan faktor-faktor makro ekonomi, seperti tingkat inflasi yang terjaga, pertumbuhan yang relatif tinggi di tengah krisis global, suku bunga yang reletif rendah dsb.

Namun, kalau kita tengok sisi fundamental dari daya saing, seperti ketersediaan infrastruktur, dukungan birokrasi serta kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat, kita masih terbilang buruk. Dengan demikian, masih ada banyak pekerjaan yang diselesaikan untuk benar-benar meningkatkan daya saing kita. Bisa jadi, kalau kita hanya bertumpu pada stabilitas makro, tahun depan kembali melorot, kalau terjadi goncangan pada sisi makro ekonomi.

Tanpa perbaikan infrastruktur, ketersediaan sumber daya energi serta dukungan birokrasi, sektor riil pada dasarnya tidak akan bergerak cepat. Dan jika itu terjadi, stabilitas sektor finansial tidak akan berarti banyak dalam peningkatan kapasitas ekonomi. Konkritnya, tidak akan ada pergerakan sektor produksi yang meningkatkan daya beli masyarakat, dan akhirnya kemampuan membayar pajak. Jika siklus ini gagal dicapai, maka investment grade tidak akan ada artinya.

 

Manfaat Investment Grade

Jika pemerintah gagal mendinamisir sektor produksi, melalui peningkatan kapasitas investasi riil, dikuatirkan potensi investment grade yang sudah di depan mata juga tidak bisa diraih. Lembaga pemeringkat tentu tidak bisa dikelabui dengan menutup fakta-fakta riil di lapangan. Kalaupun sekarang modal asing masuk deras, itu bukan semata-mata karena alasan fundamental ekonomi domestik, tetapi juga faktor eksternal.

 


BERITA3

Penulis adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Unika Atma Jaya, Jakarta

 

Bonanza perekonomian negara emerging market nampaknya masih berlanjut di tahun 2011. Lambatnya pemulihan perekonomian USA dan Uni Eropa menciptakan episentrum baru perekonomian global. Bangkitnya perekonomian negara BRIC (Brazil, Rusia, India, China) menjadi pertanda keseimbangan perekonomian global sedang bergeser. China berhasil tampil sebagai negara industri baru, yang menurut Joseph Stiglitz berhasil mengekspor deflasi ke negara-negara dunia melalui produk murahnya. India cemerlang dengan sektor teknologi informasi, sehingga wajar jika Thomas Friedman mengatakan bahwa India adalah Silicon Valley yang baru. Brazil saat ini tumbuh pesat dengan sektor perkebunannya. Sedangkan Rusia kembali membangun harga dirinya sebagai ex-negara adidaya. Keempat negara tersebut menjadi episentrum perekonomian global, yang sedikit demi sedikit mulai mengeser kedigdayaan perekonomian USA dan Uni Eropa.

Pergeseran episentrum perekonomian global ini, ternyata tidak hanya berpusat pada negara BRIC. Selama 2 tahun terakhir, Indonesia sukses menyita perhatian global. Bagaimana tidak, keberhasilan Indonesia lepas dari jeratan krisis financial global, yang sukses mengambrukkan pemain-pemain besar seperti Uni Eropa dan Amerika, membuat mata dunia teralihkan ke Indonesia. CLSA, sebuah lembaga investasi, menyamakan Indonesia dengan China dan India. Terlihat pada laporan CLSA yang berjudul Chindonesia: Enter The Komodo. CLSA menuturkan bahwa sudah saatnya Indonesia menjadi center menjadi pertumbuhan ekonomi global. Hal ini, menurut CLSA, disebabkan oleh posisi strategis Indonesia sebagai supplier bahan baku bagi China dan India. CLSA memperkirakan kekayaan Chindonesia pada tahun 2015 mencapai US$ 10 Triliun. Selain CLSA, tercatat ada beberapa pihak yang berpendapat serupa, sebut saja Morgan Stanley, Money Week, dan Bloomberg. Menurut Morgan Stanley, Indonesia pantas untuk disandingkan dengan negara BRIC. Hal ini termaktub dalam laporannya yang berjudul Indonesia Economics: Adding another “I” to B-R-I-C story? Menurut laporan tersebut, perkembangan perekonomian Indonesia sangatlah pesat, sehingga pantas untuk disandingkan dengan negara-negara BRIC. Sedikit lebih ekstrim, menurut Fazard (2010), sudah sepantasnya Indonesia masuk dalam anggota BRIC dengan menggeser Rusia. Menurutnya, Indonesia dapat menggantikan Rusia meilhat perkembangan perekonomian Indonesia yang lebih baik dari Rusia. Berbagai pendapat dan fakta inilah yang membuat Indonesia semakin diperhitungkan dalam kancah global.

Masyarakat global memang memandang positif perkembangan perekonomian Indonesia. Akan tetapi, pandangan positif tersebut akan segera sirna apabila Indonesia tidak menyelesaikan permasalahan-permasalahannya yang mendasar, seperti korupsi, birokrasi yang lamban, infrastruktur yang tidak memadai, deindustrialisasi, dan setumpuk permasalahan lainnya. Pembangunan Indonesia kedepan harus memanfaatkan momentum global ini. Oleh sebab itu, menurut hemat penulis ada dua orientasi besar pembangunan yang harus dilakukan oleh Indonesia. Pertama, pembangunan berorientasi nilai tambah. Kedua, pembangunan berorientasi sumberdaya manusia.

Indonesia memiliki banyak kekayaan alam, tapi tidak dipergunakan dengan maksimal. Indonesia acap kali melakukan ekspor bahan mentah. Contohnya adalah komoditas nikel. Lebih dari 60% dari nikel Indonesia di eksport dalam bentuk mentah. Hal ini tentunya merugikan. Diperkirakan, pada tahun 2009, Indonesia menderita kerugian sebesar US$ 200 juta akibat tidak dilakukannya pengolahan nikel. Hal serupa terjadi pada komoditas tembaga. 40% dari produksi tembaga Indonesia di eksport dalam bentuk mentah. Padahal, jika dilakukan pembangunan smelter dan penyulingan, diperkirakan Indonesia bisa mendapat tambahan keuntungan hingga US$ 250 juta. Hal ini yang harus segera dibenahi oleh Indonesia. Pembangunan industri pengolahan yang dapat memberikan nilai tambah atas hasil kekayaan alam Indonesia sepatutnya segera dilakukan. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah, seperti yang tertulis dalam laporan CLSA, tetapi bisa menjadi produsen produk jadi.

Menghadapi ketidakpastian perekonomian global, saatnya Indonesia banting setir untuk merencanakan pembangunan sumber daya manusia dengan lebih maksimal. Pembangunan sumber daya manusia Indonesia harus menekankan pada pengembangan Pendidikan dan kesehatan. Penulis menekankan pada dua bidang ini karena dalam 20 tahun mendatang Indonesia mempunyai keunggulan demografis. Diprediksi 20 tahun mendatangkan, Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk usia produktif terbesar di dunia. Berbanding terbalik dengan negara-negara Uni Eropa dan Rusia, dimana jumlah penduduk usia produktif mereka lebih sedikit dari penduduk usia tua. Hal ini menjadi keunggulan besar bagi Indonesia, dengan menumpuknya SDM produktif yang besar, maka Indonesia bisa mengakselerasi pembangunannya. Sebagaimana Amerika yang menikmati keunggulan demografis (baby boomers) pasca perang dunia kedua, yang akhirnya berhasil mendorong pertumbuhan industri Amerika Serikat dan membawa Amerika menjadi negara adidaya. Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika investasi pendidikan dan kesehatan tersebut dilakukan sejak saat ini. Kualitas tenaga produktif Indonesia 20 tahun mendatang sangat ditentukan dengan kebijakan pendidikan dan kesehatan saat ini. Apabila kualitas pendidikan dan kesehatan tidak segera diperbaiki. Maka, walaupun 20 tahun mendatang Indonesia memiliki bonus demografi, tenaga kerja yang ada di Indonesia hanya tenaga kerja berkualitas rendah. Sehingga, tetap tidak mampu bersaing dengan negara lain.

Indonesia memiliki segenap potensi dan peluang untuk menjadi negara besar. Dunia internasional sudah memprediksi hal tersebut. Tinggal bagaimana pemerintah bersama segenap bangsa Indonesia bisa melakukan transformasi mendasar dalam pembangunan Indonesia. Berbagai prediksi tersebut memang membangkitkan optimisme. Akan tetapi, optimisme saja tidak cukup, perlu langkah riil dari segenap elemen bangsa, baik goverment, private sector, ataupun civil society. Optimisme ini harus dimanfaatkan dengan baik, demi kamajuaan bangsa Indonesia kedepan. Jayalah Indonesia!!!

Saya merasa sangat risih sekali dengan berbagai pendapat politikus dan pendapat para pembacanya tentang kondisi perekonomian di Indonesia yang selalu digambarkan seperti sebuah bencana besar. Kemiskinan semakin tinggi? kehidupan di Indonesia yang semakin parah? Pemerintah yang sudah gagal? Pemerintah pembohong besar? Si miskin semakin sulit hidupnya? dan lain-lain yang semuanya negatif melulu, dan kemudian ditambahkan dengan sikap pesimistis yang destruktif dan sama sekali tidak menunjukan semangat berbangsa yang membangun!

Dalam kerangka berpikir saya, semua pendapat itu kebanyakan adalah sikap yang hanya mendramatisir masalah dengan segala intuisi yang ada dalam pikirannya, dan kemudian intuisi tersebut diterjemahkan dalam tulisan seolah-olah itu adalah FAKTA? kita seolah-olah hidup dalam dunia yang sedemikian jeleknya dan ternyata dunia itu adalah ciptaan alam pikiran kita sendiri, mari lihat lagi! Kita lihat fakta berikut yang saya yakin bukan termasuk dari salah satu kebohongan yang ditudingkan :

1. Cadangan Devisa tertinggi, 96,2 milyar USD, terbesar dalam sejarah. Cadangan Devisa besar itu berarti mencerminkan posisi indonesia yang semakin kuat dan stabil dimata investor asing dan lokal. Bank Indonesia mempunyai otot yang lebih kekar untuk ‘menghajar’ para spekulan mata uang dan dana asing yang masuk sedemikian derasnya pun bisa dijinakkan.

2. Ekspor kita tertinggi dalam sejarah, lebih dari USD 150 milyar. Ini berarti sektor riil atau sektor industri bisa produksi lebih banyak, artinya membutuhkan bahan baku dan sumber daya lebih banyak, artinya lagi ekonomi semakin bergairah dan penyerapan sumber daya manusia pun juga akan membaik yang ujungnya meningkatkan taraf hidup orang banyak.

3. Kurs Rupiah yang jauh lebih stabil satu tahun terakhir ini, walaupun digempur oleh dana asing yang masuk ke Indonesia ataupun dana keluar. rentang pergerakan rupiah sempit, terukur dan resiko rendah. rentang pergerakan rupiah antara 8.900 sampai 9.250 ini berdasarkan pengamatan saya sendiri. (silahkan koreksi jika keliru)

4. Pertumbuhan ekonomi kita tahun 2009 adalah tertinggi ke-3 didunia setelah china dan India, dan tahun 2010 lalu diperkirakan pertumbuhan ekonomi kita 6%, ini artinya lebih dari 2 kali lipat pertumbuhan eropa dan amerika.

5. Pendapatan perkapita penduduk Indonesia pada tahun 2009 adalah USD 2,590 dan pada tahun 2010 sudah mendekati USD 3.000? nah perlu gak nih dijelaskan apa dampaknya jika pendapatan perkapita tinggi?

6. Penjualan Mobil secara nasional tertinggi dalam sejarah : 763.761 unit, naik 57,1%! dibanding tahun 2009.

7. Penjualan Sepeda motor tahun 2010 : 7.398.644 unit atau naik 25,7% dibanding tahun 2009.

8. Penjualan Alat berat tahun 2010 adalah yang tertinggi dalam sejarah, lebih dari 10rb unit. (data detail belum ada). penjualan alat berat ini jika tumbuh maka industri Indonesia yaitu : pertambangan, perkebunan, kehutanan dan infrastruktur berkembang, semua industri tersebut adalah industri utama yang membawa begitu banyak industri turunannya. ada ‘Multiplier Effect‘ dari perkembangan industri ini.

Saya bukan ekonom, tapi dengan melihat kedelapan FAKTA diatas, saya yakin perekonomian Indonesia berkembang lebih baik dan itu bertentangan dengan segala pendapat pesimistis yang ada saat ini.

Untuk mencapai kondisi diatas, pemerintah sudah berhasil melakukan perbaikan yang sifatnya fundamental, Bank Indonesia yang bebas dari intervensi pemerintah, dan terutama adalah pemerintah yang tidak mau berkompromi dengan pengusaha besar dan lebih memihak kepentingan Negara secara luas. Integritas seperti ini yang hilang dimasa Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, dan Bu Mega.

Jadi Intinya! (menurut saya) Pemerintah sudah ‘on the track‘, jika ada kekeliruan data yang disampaikan dan ada perbedaan asumsi dalam perhitungan variabel makro, maka ITU BUKAN KEBOHONGAN.

Salam.

 

Beberapa berita diatas merupakan bukti bahwa Indonesia tidak seburuk yang di pikirkan oleh kebanyakan orang.

 

 

 

BAB 3

KESIMPULAN

 

Bangga terhadap Indonesia bukanlah suatu keharusan melainkan kewajiban kita sebagai warga Negara. Kita tidak bisa membuat Indonesia untuk dapat kita banggai melainkan membuat kita untuk bangga terhadap Indonesia.

Maka yakinkanlah diri kita AKU BANGGA INDONESIA!!!!

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: